|
Selalu juga kawan-kawanku
bertanya kepadaku. Adakah aku pernah memarahi anak atau tidak. Tentu
saja aku menjawab bahwa aku pernah memarahi anakku...bahkan mungkin
selalu, bergantung keadaan yang kualami bersama anak.
www.familiazam.com
Saat anak selalu berlaku elok, taat pada perintah dan
nasihat-nasihatku, serta tidak membuat kesalahan yang disengaja...aku
akan selalu
berbuat baik padanya. Memberi pujian ketika anak bejaya melakukan
suatu hal, walau sangat sederhana bagi kita orang dewasa, memberi
semangat ketika anak merasa lemah, dan memberikan kehangatan ketika
anak dalam keresahan.
Namun, bila anak melakukan suatu kesalahan berulang, berlaku nakal
dan menentang nasihat, maka marahlah yang kuberikan. Kerana aku
ingin, anak ku dapat membezakan yang benar dan yang salah,
membezakan mana yang boleh dan mana yang tidak. Bukan anak yang
berfikir semua hal boleh dilakukan, tanpa ada larangan dan peraturan.
Bukan pula anak yang selalu dituruti kemahuannya, hingga menjadi
anak yang manja.
Anak-anak, harus kita perkenalkan kepada hal-hal yang baik dan yang
tidak, hal yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan, sehingga
mereka dapat membezakan mana yang benar dan mana yang salah.
Memarahi pada saat anak berbuat kesalahan, adalah merupakan suatu
nasihat. Asal marah dilakukan dengan cara yang tepat, tidak membabi
buta, dan tahu alasan kenapa harus marah.
www.familiazam.com
Marah pada tempat yang memang seharusnya marah, dan dengan kadar
kemarahan yang sesuai dengan tingkat kesalahan anak, sehingga anak
tahu bahwa yang dilakukannya adalah sebuah kesalahan. Seperti ketika
anak malas melakukan sembahyang, tidak mau melaksanakan perintah,
tidak sopan kepada orang tua, dan berbuat tidak baik dengan kawan
sepermainannya.
Satu perlakuan yang tidak tepat bila kita melihat anak berlaku tidak
baik, kita tetap memanggilnya dengan panggilan ” budak baik”, dan
membiarkan tindakannya dengan alasan memberi kebebasan. Namun tak
tepat pula bila setiap perilakunya kita salahkan, kerana dilakukan
secara tidak sempurna. Kita harus mampu berusaha untuk memiliki rasa
simpati kepada anak, agar kita mampu menghargai perasaannya. Kita
harus memiliki kesedaran penuh, bahwa anak-anak bukanlah orang
dewasa, sehingga kita mampu memberikan pujian sekecil apapun
kemampuannya melakukan sesuatu.
Pujian ketika anak berjaya melakukan suatu tindakan yang berguna,
juga merupakan satu nasihat, asal pujian diberikan tidak
berlebihan-lebihan. Kadang, dengan mengucapkan kata ”anak ibu pandai
ya, alhamdulillah”, anak sudah merasa gembira. Atau sekadar
meletakkan ibu jari tangan kanan kita ke pipinyapun, sudah menjadi
penghargaan tersendiri. Hingga anak selalu memiliki semangat, untuk
lebih banyak tahu dan berani mencoba melakukan segala sesuatu.
www.familiazam.com
Di sebuah tadika, ada seorang anak yang selalu buat hal dan tak
pernah mau dinasihati. Setiap hari membuat salah seorang atau
beberapa orang rakannya menangis, dengan segala ulahnya. Ketika
dinasehati dengan lemah lembut oleh gurunya, anak tak mau terima,
kenakalannya bertambah dan semakin menjadi-jadi.
Setelah diselidiki, dan ditanyakan bagaimana kebiasaan anak tersebut.
pada ibunya, ibunya memberitahukan kepada para guru, bahwa anaknya
tidak pernah dimarahi. Bila anak melakukan sebuah kesalahan, bahkan
ibunya yang meminta maaf kepada anaknya, karena ibunya merasa bahwa
anaknya melakukan kesalahan karena dia salah memberi tahu.
Perlakuan si ibu memang tidak sepenuhnya salah, dengan menyadari
bahwa anak melakukan kesalahan kerana ibu salah memberi tahu. Namun
dengan tidak memberitahu anak bahawa perbuatannya salah, akhirnya
membuat anak merasa selalu benar, dan tidak tahu hal-hal yang salah,
hingga diapun menginginkan kawan-kawan dan guru di sekolahnya
melakukan hal yang sama ”minta maaf kepadanya” ketika dia melakukan
kesalahan, seperti yang dilakukan ibunya.
www.familiazam.com
Anak yang lain, dalam kondisi yang sebaliknya. Dia selalu murung,
dan bahkan pada saat acara nyanyian pun dia tidak ceria seperti
teman-temannya. Senang melamun, dan tak pernah selesai mengerjakan
tugas-tugas yang diberikan, seakan tak mempunyai semangat apa-apa.
Setelah ditanyakan, pembantu rumahnya, rupanya setiap hari anak ini
dimarahi ibunya. Apapun yang dikerjakan anak, selalu dianggap salah
dan ibunya selalu marah. Tak pernah rasanya, ibunya memberi pujian,
menghargai hasil karya anaknya. Akhirnya, anak selalu murung dan
kehilangan keceriaan. Merasa tidak ada artinya apa-apa dihadapan
ibunya.
Dua contoh di atas. memberikan pengajaran kepada kita, bahwa tak
pernah memarahi maupun memarahi terus anak-anak, bukanlah cara yang
tepat. Jadi, ada saat memarahi, adapula saat memanjakannya, hingga
anak-anak kenal yang haq dan yang bathil, kasih sayang dan perhatian.
www.familiazam.com
Sumber: Foward
Email |